Bogor. RW 01 Kelurahan Tegal Lega Kecamatan Bogor Tengah,
Kota Bogor di Recheking Tim Evaluasi Program Terpadu Peningkatan Peranan
Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS) Provinsi Jawa
Barat.
Kedatangan tim selain untuk memantau secara
langsung perkembangan kondisi lokasi binaan juga untuk melihat secara
langsung . Tim evaluasi yang diketuai Tintin S Hidayat dari Badan
Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Provinsi Jawa
Barat, Rabu (7/12/2011).
Dilokasi binaan Tim diterima Sekretaris
Daerah (Sekda) Kota Bogor, Bambang Gunawan mewakili Walikota Bogor
didampingi Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana
Hj. Nia Kurniasih, Dinas terkait dan Ketua Tim Penggerak PKK (TP PKK)
Kota Bogor diwakili Ketua Hj. Taty Basyit bersama para pengurusnya,
Dalam kesempatan tersebut tampak hadir acara penerimaan tim tersebut Camat dan lurah se - Kota Bogor.
Sekdakot
Bambang Gunawan mengatakan, kesuksesan program terpadu P2WKSS tidak
hanya semata-mata untuk mengejar pencapaian prestasi bagi Kota Bogor,
tetapi lebih jauh, program ini untuk memotivasi para ibu dan kaum wanita
umumnya dalam berkarya, serta mendukung usaha–usaha meningkatkan
kualitas kehidupan masyarakat.
Intinya, kata Bambang, dalam
konteks peningkatan peran serta mesyarakat dalam membangun wilayah,
keberadaan kaum wanita yang aktif, diharapkan mampu menjadi faktor
pemacu meningkatkan peran serta masyarakat pada setiap aktivitas
pembangunan. Artinya memang harus terus menerus didorong untuk bisa
berperan lebih nyata di dalam usaha-usaha meningkatkan kualitas
kehidupan di wilayahnya masing-masing “jelasnya.
Ditambahkannya,
bahwa lokasi program terpadu P2WKSS di Kota Bogor RT. 01, RT 03, RT.
04 dan R T.06 di wilayah RW.01 Kelurahan Tegallega Di lokasi ini ada
sekitar 100 perempuan binaan yang masuk dalam kategori keluarga miskin,
keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera tahap satu yang
mendapatkan berbagai program pembinaan yang melibatkan Dinas/Instansi
dan Organisasi terkait.
Sementara Ketua Tim Recheking Evaluasi
Program Terpadu P2WKSS Provinsi JawaBarat Tintin S Hidayat, mengucapkan
selamat kepada Kelurahan Tegallega Kecamatan Bogor Tengah karena lokasi
P2WKSS ini telah masuk dalam tahap Recheking. “Semoga dapat dijadikan
lebih memacu untuk membangun dan memelihara di lingkungannya baik di
lingkungan masyarakat maupun di lingkungan keluarganya, “ kata Tintin.
Tintin
mengingatkan, program P2WKSS jangan sekedar mengejar juara baik tingkat
Provinsi maupun Nasional. Tetapi, P2WKSS harus dijadikan sebagai pemicu
dan pemacu agar masyarakatnya bisa meningkatkan kesejahteraan baik di
lingkungan keluarganya maupun di lingkungan sosialnya.
Kota Bogor dalam P2WKSS tipe perkotaan akan bersaing dengan Kota Cimahi, dan Kota Banjar.
Tim
Provinsi Jabar dalam peninjauannya ke RW 01 Kelurahan Tegal Lega
melakukan peninjauan ke 15 lokasi binaan diantaranya, PAUD sudut baca,
Children Centre, BKB, Kelas Bumil, Posyandu, KWT Kananga, Warung Binaan
PKK, dan Peninjauan ke Rumah Sehat. (gus)
(kotabogor)
12 Des 2011
Penilaian P2WKSS Di Desa Sidomulyo
Ciamis (14/11). Penilaian P2WKSS Di Desa Sidomulyo
Kecamatan Pangandaran, program ini sangat penting dan strategi dalam
upaya memajukan bangsa kedepan khusus nya kaum perempuan karena sampai
saat ini kita akui meski penduduknya banyak dan potensi banyak kita
berada di urutan bawah di dunia karena terbentur SDM yang rendah dan
tidak memiliki daya saing yang tinggi. Sebenarnya kaum ibu itu banyak
andil dalam membangun terutama dalam membangun keluarga, untuk itu
diharapkan kaum perempuan harus didorong untuk memiliki keterampilan
memiliki daya saing yang tinggi daripada di rumah.
Bupati Ciamis Perintahkan Bawasda Audit Keuangan Desa
Ciamis (19/11). Bupati Ciamis Engkon Komara
memerintahkan Badan Pengawasan Daerah (Bawasda) atau Inspektorat
mengaudit dana keuangan desa, menyusul ditetapkannya kenaikan tunjangan
kesejahteraan bagi perangkat desa di Kabupaten Ciamis.
Sebelumnya, Pemerintah Ciamis menetapkan tambahan tunjangan untuk aparat desa sebesar Rp100 ribu perorang perbulan. Menurut Engkon, seiring dengan kenaikan dana tersebut desa harus transparan dalam pengelolaan keuangan karena banyaknya sumber keuangan yang masuk ke desa mulai dari daerah, propinsi, ADD dan sektoral lainnya termasuk anggaran desa peradaban.
“Selain itu, aparat desa juga punya pancen atau bengkok, jika diakumulasikan berapa total penghasilan mereka, tentunya akan melebihi UMK Ciamis, sementara targetnya sebelum 2014 tunjangan perangkat desa jangan sampai kurang dari UMK,” Kata Engkon.
Untuk menciptakan keterbukaan itu, lanjut Engkon, pihaknya sudah memerintahkan Inspektorat agar melakukan audit keuangan desa, dari mana saja sumbernya dan dipergunakan untuk apa. “Supaya saya tahu alur keuangan desa, saya sudah memerintahkan Inspektorat untuk mengaudit, tapi saya minta dilakukan mulai tahun 2012 karena tahun ini waktunya tidak memungkinkan,” tegasnya.
Engkon menegaskan, audit itu juag sebagai bentuk pengawasan agar keuangan desa dikelola dengan baik. Pihaknya tidak mau tiba-tiba mendengar ada masalah dengan hukum terkait anggaran desa, jadi ini harus diantisipasi sejak dini. “Kenaikan itu juga harus jadi motivasi agar pengelolaan keuangan di desa bisa lebih baik,” tegas Engkon.
Sebelumnya, tunjangan perangkat desa di Ciamis mengalami kenaikan masing-masing Rp 100 ribu perorang perbulan, yakni Rp 400 ribu menjadi Rp 500 ribu, untuk sekretaris desa non PNS sebelumnya Rp 525 ribu menjadi Rp 625 ribu. Sedangkan tunjangan kepala desa tidak mengalami kenaikan, tetap Rp 1 juta per bulan. Rencana kenaikan itu sempat ditolakbupati Ciamis, namun dukungan lima fraksi dari tujuh fraksi yang ada terus mengalir, sehingga Banggar dan TAPD menyetujui adanya kenaikan. (NAN)
(onlinejabarnews)
Sebelumnya, Pemerintah Ciamis menetapkan tambahan tunjangan untuk aparat desa sebesar Rp100 ribu perorang perbulan. Menurut Engkon, seiring dengan kenaikan dana tersebut desa harus transparan dalam pengelolaan keuangan karena banyaknya sumber keuangan yang masuk ke desa mulai dari daerah, propinsi, ADD dan sektoral lainnya termasuk anggaran desa peradaban.
“Selain itu, aparat desa juga punya pancen atau bengkok, jika diakumulasikan berapa total penghasilan mereka, tentunya akan melebihi UMK Ciamis, sementara targetnya sebelum 2014 tunjangan perangkat desa jangan sampai kurang dari UMK,” Kata Engkon.
Untuk menciptakan keterbukaan itu, lanjut Engkon, pihaknya sudah memerintahkan Inspektorat agar melakukan audit keuangan desa, dari mana saja sumbernya dan dipergunakan untuk apa. “Supaya saya tahu alur keuangan desa, saya sudah memerintahkan Inspektorat untuk mengaudit, tapi saya minta dilakukan mulai tahun 2012 karena tahun ini waktunya tidak memungkinkan,” tegasnya.
Engkon menegaskan, audit itu juag sebagai bentuk pengawasan agar keuangan desa dikelola dengan baik. Pihaknya tidak mau tiba-tiba mendengar ada masalah dengan hukum terkait anggaran desa, jadi ini harus diantisipasi sejak dini. “Kenaikan itu juga harus jadi motivasi agar pengelolaan keuangan di desa bisa lebih baik,” tegas Engkon.
Sebelumnya, tunjangan perangkat desa di Ciamis mengalami kenaikan masing-masing Rp 100 ribu perorang perbulan, yakni Rp 400 ribu menjadi Rp 500 ribu, untuk sekretaris desa non PNS sebelumnya Rp 525 ribu menjadi Rp 625 ribu. Sedangkan tunjangan kepala desa tidak mengalami kenaikan, tetap Rp 1 juta per bulan. Rencana kenaikan itu sempat ditolakbupati Ciamis, namun dukungan lima fraksi dari tujuh fraksi yang ada terus mengalir, sehingga Banggar dan TAPD menyetujui adanya kenaikan. (NAN)
(onlinejabarnews)
5 Kecamatan Sentra Agropolitan Di Ciamis
Ciamis (9/12). Untuk meningkatkan perekonomian lokal dalam bidang peternakan, Bank
Indonesia Bandung memberikan sejumlah bantuan untuk mengembangkan
terciptanya kawasan agropolitan di Kabupaten Ciamis dengan memberikan
bantuan awal kepada Gapoktan dan SMK Nurul Huda, Kabupaten Ciamis.
Dalam rapat koordinasi Pengembangan Agropolitan Kabupaten Ciamis di Ciamis, Jumat, Kepala Bank Indonesia Bandung Lucky Fathul Aziz Hadibrata mengatakan bantuan tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) itu berupa "screenhouse" Rp140 juta untuk Gapoktan Karangsari dan pembangunan kandang ayam model Rp105 juta untuk SMK Nurul Huda.
Dengan bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan perekonomian di Kabupaten Ciamis. "Bantuan itu bisa menjadi pemicu dan stimulus bagi peternak untuk mengembangkan bisnis tersebut lebih lanjut," kata Lucky.
Dalam kesempatan itu Kepala BI mengatakan, program agropolitan yang dikembangkan di Ciamis untuk memberikan kontribusi yang tujuannya mensejahterakan petani dan peternak setempat.
Untuk itu, kata dia, pihaknya telah meminta kepada para pimpinan bank yang ada di Ciamis untuk tidak segan-segan menyalurkan kredit kepada para peternak dan petani.
Lucky menilai kawasan Priangan timur, khususnya Kabupaten Ciamis sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan agropolitan yang dapat menumbuhkan perekonomian di Jabar.
Dalam kesempatan yang sama Wakil Bupati Ciamis, Iing Syam Arifin mengatakan, wilayahnya memang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan agropolitan, karena dasarnya sudah ada sejak awal, sehingga tinggal dikembangkan lebih baik lagi dengan dukungan pihak perbankan.
Menurut Wabup, Ciamis memiliki lahan yang cukup luas dan didukung sumber daya alam dan telah memiliki komoditi unggulan yang sesuai dengan budaya lokal, seperti komoditas kelapa, kakao, padi, jagung, kopi, teh, ternak sapi, ayam dan ikan tawar maupun laut.
Selama ini, kata dia, Ciamis merupakan sentra penghasil komoditas palawija, holtikultura, peternakan dan perikanan terbesar kedua di kawasan Jawa Barat, sehingga nantinya akan berkontribusi bagi pengadaan pasokan pangan nasional .
Agropolitan yang tersebar di lima kecamatan itu seluas 270 ribu hektare sawah dan 435 ribu hektare perkebunan, akan menjadi harapan peningkatan perekonomian ke depan. "Untuk itu kami meminta dukungan dari semua pihak terutama pihak perbankan guna mewujudkan kawasan agropolitan tersebut," katanya.
Kelima Kecamatan yang akan dijadikan sentra agropolitan, kata dia, yakni Kecamatan Panumbangan, Cihaurbeuti, Panjalu, Lumbung dan Kecamatan Sukamantri. ***5***
(antarajawabarat)
Dalam rapat koordinasi Pengembangan Agropolitan Kabupaten Ciamis di Ciamis, Jumat, Kepala Bank Indonesia Bandung Lucky Fathul Aziz Hadibrata mengatakan bantuan tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) itu berupa "screenhouse" Rp140 juta untuk Gapoktan Karangsari dan pembangunan kandang ayam model Rp105 juta untuk SMK Nurul Huda.
Dengan bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan perekonomian di Kabupaten Ciamis. "Bantuan itu bisa menjadi pemicu dan stimulus bagi peternak untuk mengembangkan bisnis tersebut lebih lanjut," kata Lucky.
Dalam kesempatan itu Kepala BI mengatakan, program agropolitan yang dikembangkan di Ciamis untuk memberikan kontribusi yang tujuannya mensejahterakan petani dan peternak setempat.
Untuk itu, kata dia, pihaknya telah meminta kepada para pimpinan bank yang ada di Ciamis untuk tidak segan-segan menyalurkan kredit kepada para peternak dan petani.
Lucky menilai kawasan Priangan timur, khususnya Kabupaten Ciamis sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan agropolitan yang dapat menumbuhkan perekonomian di Jabar.
Dalam kesempatan yang sama Wakil Bupati Ciamis, Iing Syam Arifin mengatakan, wilayahnya memang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan agropolitan, karena dasarnya sudah ada sejak awal, sehingga tinggal dikembangkan lebih baik lagi dengan dukungan pihak perbankan.
Menurut Wabup, Ciamis memiliki lahan yang cukup luas dan didukung sumber daya alam dan telah memiliki komoditi unggulan yang sesuai dengan budaya lokal, seperti komoditas kelapa, kakao, padi, jagung, kopi, teh, ternak sapi, ayam dan ikan tawar maupun laut.
Selama ini, kata dia, Ciamis merupakan sentra penghasil komoditas palawija, holtikultura, peternakan dan perikanan terbesar kedua di kawasan Jawa Barat, sehingga nantinya akan berkontribusi bagi pengadaan pasokan pangan nasional .
Agropolitan yang tersebar di lima kecamatan itu seluas 270 ribu hektare sawah dan 435 ribu hektare perkebunan, akan menjadi harapan peningkatan perekonomian ke depan. "Untuk itu kami meminta dukungan dari semua pihak terutama pihak perbankan guna mewujudkan kawasan agropolitan tersebut," katanya.
Kelima Kecamatan yang akan dijadikan sentra agropolitan, kata dia, yakni Kecamatan Panumbangan, Cihaurbeuti, Panjalu, Lumbung dan Kecamatan Sukamantri. ***5***
(antarajawabarat)
9 Des 2011
Pendamping Program Keluarga Harapan Diberi Pelatihan
Lombok Tengah - Para
Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang ada di Kabupaten Lombok
Tengah kemarin pagi diberikan pelatihan. Mereka diberikan pelatihan
tentang Service Provider atau Pelayanan untuk Kesehatan dan Pendidikan.
Acara pelatihan atau Bintek dilaksanakan di Wisma Mandalika Loteng.
Bintek dibuka oleh Asisten I Setda Loteng, Ir. L. Muhammad Danial yang
sekaligus membacakan Sambutan Bupati. Menurut Danial, Pemerintah
Kabupaten Lombok Tengah saat ini terus melakukan pembangunan di segala
bidang. Semua kegiatan yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat. Berbagai program kegiatan pun
dilaksanakan baik itu program dari Pemda Loteng sendiri maupun
Pemerintah Pusat.
Salah satu kegiatan Pemerintah Pusat yang mulai dilaksanakan pada tahun
2011 ini Program Keluarga Harapan (PKH) yang sasarannya adalah rumah
tangga sangat miskin. Selain Danial, hadir pula Tim Koordinasi
Kementerian Sosial, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi,
Lombok Tengah, para narasumber, KUPT Pendidikan dan Kesehatan se-Lombok
Tengah. Menurut H. Lalu Danial, masyarakat miskin di Lombok
Tengah saat ini mencapai angka 17 ribuan. Nantinya, mereka akan
diberikan uang tunai oleh pemerintah secara bersyarat setelah didata dan
dibimbing oleh tenaga pendamping yang handal,yang direkrut untuk
membantu Program Keluarga Harapan.”Tentunya, para Pendamping yang terjun
ke masyarakat ini, hendaknya memelihara hubungan baik dengan
masyarakat, serta aparat pemerintah di desa dimana dia bertugas,” harap
Danial.Yang sangat perlu, sambung Danial, para Pendamping hendaknya
membimbing masyarakat atau memberikan motivasi agar mau bekerja serta
terus banyak berkarya untuk menunjang keluarganya, agar mampu
menciptakan keluarga yang sejahtera dan dapat memenuhi kebutuhan rumah
tangganya. Dengan demikian, apa yang diharapkan dapat terwujud demi
kemajuan bangsa Indonesia tercinta. Sementara itu, Kepala
Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kabupaten Lombok Tengah,
Drs. H. L. Sastra Wiria, M.M juga selaku Ketua Panitia Pelaksanaan
Bintek dalam laporannya mengatakan, pelaksanaan Bimbingan Teknis Service
Provider layanan kesehatan dan layanan pendidikan Program Keluarga
Harapan, ini diikuti oleh 200 orang yang terdiri dari perwakilan Bidan
yang ada di setiap desa yang ada di Loteng, UPT Kesehatan dan UPT
Pendidikan dan 12 Pendamping PKH Kabupaten Lombok Tengah. Adapun
nara sumbernya, lanjut Sastra Wiria, terdiri dari Tim dari Kementerian
Sosial, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga serta Dinas Kesehatan.
“Nantinya, para Pendamping yang diberikan Bintek akan
diberikan materi kebijakan dan strategi dalam pelaksanaan PKH, Kebijakan
Teknis Dinas Kesehatan dan kiat-kiat yang dikembangkan guna mendukung
kelancaran pelaksanaan PKH. Selain itu juga materi tentang Kebijakan
Teknis dinas Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga dan kiat-kiat yang
dikembangkan guna mendukung kelancaran pelaksanaan Program PKH.”
ujarnya. (Humas)
(lomboktengahkab)
(lomboktengahkab)
Operator e-KTP Tunda Bulan Madu
Aceh - Sejumlah operator
proses pembuatan e-KTP di Kecamatan Bebesan, Aceh Tengah terpaksa
menunda bulan madu untuk mengejar target 25 hari lagi atau sampai 31
Desember 2011. Untuk kecamatan ini, proses pembuatan e-KTP baru mencapai 6.083 jiwa atau sekitar 23 persen dari jumlah penduduk yang wajib KTP, 26.000 jiwa.
Camat Bebesen, Subhan Sahara SSos, Senin (5/12) menyatakan para operator e-KTP harus bekerja dari pagi sampai dinihari secara bergantian atau dari pukul 08.00 sampai 24.00 WIB. Dia menyebutkan, di antara operator yang baru saja menikah ditugaskan pada malam hari guna melayani pendataan dan pemotretan e-KTP.
Dia mengatakan para operator itu harus menunda bulan madu karena tidak boleh mengambil cuti atau berlibur. Disebutkan, operator e-KTP di Kecamatan Bebesen sebanyak empat orang yang sudah terlatih ditambah 11 petugas administrasi plus enam tenaga lain, sehingga jumlahnya 17 orang.
Dari 17 petugas, katanya, ditugaskan dari pagi hingga malam hari, diberikan waktu istirahat secara bergantian. Sebagian petugas yang baru menikah, juga terpaksa masuk kerja pada malam hari dengan pertimbangan banyak warga yang bekerja pada siang hari, baik PNS maupun pedagang, sehingga hanya memiliki kesempatan mendatangi kantor camat pada malam hari saja.
“Guna melayani pembuatan e-KTP, beberapa petugas yang baru menikah terpaksa masuk malam hari sehingga tidak sempat berbulan madu,” ujar Subhan Sahara.
Dari 14 kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah, jumlah warga KTP terbanyak di Kecamatan Bebesen. Jumlah wajib KTP Kecamatan di Bebesen sebanya 26.000 jiwa tersebar pada 28 kampung dan hingga Senin (5/12), jumlah warga yang sudah menjalani pemotretan e-KTP sebanyak 6.083 jiwa, sementara batas waktu penyelesaian e-KTP hingga 31 Desember 2011.
Pembuatan e-KTP di kecamatan ini menggunakan dua set personal computer (PC) (PC) yang dilengkapi alat pindai iris mata, tanda tangan dan sidik jari ditambah kamera. Menurut Subhan, setiap satu PC hanya mampu memproses 200 e-KTP setiap hari. “Dilihat dari kemampuan proses setiap komputer, pembuatan e-KTP itu tidak akan selesai hingga 31 Desember 2011,” ujar Subhan Sahara.
Dia menyesalkan kontraktor pusat yang terlambat menyerahkan satu unit komputer pembuatan e-KTP, padahal jumlah penduduk wajib KTP di Kecamatan Bebesen paling banyak di Kabupaten Aceh Tengah. Jumlah penduduk kecamatan ini sebanyak 39.000 jiwa dan jumlah wajib e-KTP sebanyak 26.000 jiwa. “Jumlah penduduk yang wajib KTP di Kecamatan Bebesen merupakan yang terbanyak di Kabupaten Aceh Tengah,” tandas Camat Bebesan itu.(min)
Camat Bebesen, Subhan Sahara SSos, Senin (5/12) menyatakan para operator e-KTP harus bekerja dari pagi sampai dinihari secara bergantian atau dari pukul 08.00 sampai 24.00 WIB. Dia menyebutkan, di antara operator yang baru saja menikah ditugaskan pada malam hari guna melayani pendataan dan pemotretan e-KTP.
Dia mengatakan para operator itu harus menunda bulan madu karena tidak boleh mengambil cuti atau berlibur. Disebutkan, operator e-KTP di Kecamatan Bebesen sebanyak empat orang yang sudah terlatih ditambah 11 petugas administrasi plus enam tenaga lain, sehingga jumlahnya 17 orang.
Dari 17 petugas, katanya, ditugaskan dari pagi hingga malam hari, diberikan waktu istirahat secara bergantian. Sebagian petugas yang baru menikah, juga terpaksa masuk kerja pada malam hari dengan pertimbangan banyak warga yang bekerja pada siang hari, baik PNS maupun pedagang, sehingga hanya memiliki kesempatan mendatangi kantor camat pada malam hari saja.
“Guna melayani pembuatan e-KTP, beberapa petugas yang baru menikah terpaksa masuk malam hari sehingga tidak sempat berbulan madu,” ujar Subhan Sahara.
Dari 14 kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah, jumlah warga KTP terbanyak di Kecamatan Bebesen. Jumlah wajib KTP Kecamatan di Bebesen sebanya 26.000 jiwa tersebar pada 28 kampung dan hingga Senin (5/12), jumlah warga yang sudah menjalani pemotretan e-KTP sebanyak 6.083 jiwa, sementara batas waktu penyelesaian e-KTP hingga 31 Desember 2011.
Pembuatan e-KTP di kecamatan ini menggunakan dua set personal computer (PC) (PC) yang dilengkapi alat pindai iris mata, tanda tangan dan sidik jari ditambah kamera. Menurut Subhan, setiap satu PC hanya mampu memproses 200 e-KTP setiap hari. “Dilihat dari kemampuan proses setiap komputer, pembuatan e-KTP itu tidak akan selesai hingga 31 Desember 2011,” ujar Subhan Sahara.
Dia menyesalkan kontraktor pusat yang terlambat menyerahkan satu unit komputer pembuatan e-KTP, padahal jumlah penduduk wajib KTP di Kecamatan Bebesen paling banyak di Kabupaten Aceh Tengah. Jumlah penduduk kecamatan ini sebanyak 39.000 jiwa dan jumlah wajib e-KTP sebanyak 26.000 jiwa. “Jumlah penduduk yang wajib KTP di Kecamatan Bebesen merupakan yang terbanyak di Kabupaten Aceh Tengah,” tandas Camat Bebesan itu.(min)
Editor : bakri
Setelah 2012 Pembuatan e-KTP Tidak Gratis Lagi
Kalimantan Tengah - Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akan menerapkan Kartu Tanda
Pendudukan Elektronik (e-KTP) pada tahun 2012. Saat penerapannya nanti
akan dilakukan secara massal dan digratiskan alias tidak dipungut biaya.
Karenanya untuk memberikan pemahaman apa itu e-KTP, Rabu (9/11) digelar
sosialisasi dengan mengundang seluruh elemen masyarakat di gedung
serbaguna.
Bupati
Kotim H. Supian Hadi yang membuka sosialisasi e-KTP tingkat Kabupaten
Kotim mengatakan bersama 300 kabupaten/kota di Indonesia, Kotim akan
menerapkan e-KTP di tahun 2012. Dokumen kependudukan ini akan
menggantikan KTP manual yang saat ini masih berlaku.
Dijelaskan
dengan diterapkannya e-KTP banyak manfaat yang didapat. Diantaranya
mencegah dan menutup peluang KTP ganda dan KTP palsu, sehingga
memberikan rasa aman dan kepastian hukum bagi masyarakat. Kedua
mendukung terwujudnya database kependudukan yang akurat, sehingga data
pemilih dalam Pemilu dan Pemilukada yang selama ini sering bermasalah
tidak akan terjadi lagi, dan semua warga negeri Indonesia yang berhak
memilih terjamin hak pilihnya.
Ketiga
mendukung peningkatan keamanan Negara sebagai dampak positif dari
tertutupnya peluang KTP ganda dan KTP palsu, dimana selama ini para
pelaku criminal termasuk teroris, TKI illegal dan perdagangan orang
umumnya menggunakan KTP ganda dan palsu.
Kepala
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kotim HM.
Fahruddin mengatakan dengan sosialisasi e-KTP ini aparat pemerintah
termasuk masyarakat bisa memahami KTP elektronik tersebut.
e-KTP
ini, katanya sebagai pengganti KTP manual yang saat ini masih berlaku
baik yang ditanda tangani oleh camat maupun kepala Disdukcapil.
Sementara dalam e-KTP tidak lagi ditandatangani Kepala Disdukcapil, tapi
langsung ditanda tangani si pemlik KTP.
“dalam
e-KTP kan dilengkapi dengan chip yang didalamnya berisikan biodata
lengkap masing-masing pemilik. Manfaatnya tidak hanya sebagai tanda
pengenal tapi akan lebih multifungsi,” ujar Fahruddin.
Dijelaskan
sesuai jadwal penerapan e-KTP di Kabupaten Kotim akan diberlakukan
April 2012, sementara Februari 2012 akan dilakukan pelatih operator.
“Kita berharap semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Untuk peralatan sebagai sudah dikirim dari provinsi,” ucapnya.
Dalam
pembuatannya sendiri nantinya dilaksanakan secara massal. Warga yang
akan membuat e-KTP akan dipanggil menggunakan surat panggilan yang
dikeluarkan masing-masing camat. Misalnya dalam satu hari di Kecamatan
Mentawa Baru Ketapang dipanggil 300 orang. Nah mereka inilah yang
nantinya wajib mendatangi kantor pelayanan.
“Selanjutnya
seperti itu dengan jumlah panggilan yang bervariasi sampai berakhir
tahun 2012. Setelah 2012 pembuatan e-KTP tidak gratis lagi. Dan itu
dibebankan biayanya kepada yang mengurus KTP,” jelasnya. (radar sampit/sampitonline.com)
8 Des 2011
Mendagri Janji RUU Desa Diserahkan Ke DPR Pekan Depan
Jakarta. Mendagri Gamawan Fauzi mengatakan draf RUU Desa saat ini sedang dalam
tahap finalisasi. Dia berjanji draf RUU itu akan dikirim Presiden ke DPR
pekan depan.
"Sinkronisasi seluruh kementerian sudah selesai. Minggu ini saya ajukan ampres-nya kepada presiden," kata Mendagri Gamawan Fauzi di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Selasa (6/12/2011).
Dia mengungkapkan, dalam draf RUU Desa tidak ditetapkan prosentase alokasi anggaran untuk desa. Sesuai dengan prinsip otonomi daerah, penganggarannya diatur oleh kabupaten/kotamadya dengan menggunakan anggaran daerah.
"Desa bagian dari kabupaten. Karena dananya dari kabupaten, maka kabupaten yang mengatur alokasi dana ke desa masing-masing," jelas Gamawan.
Mantan Gubernur Sumbar ini yakin cara demikian tidak membebani anggaran kabupaten. Sebab pada kenyataannya pendapatan kabupaten setiap tahun meningkat sehingga bisa memastikan ketersediaan alokasi dana untuk desa.
"Kita harus patuh dengan sistem otonomi daerah. Tidak bisa dari pusat langsung ke desa, terlewati propinsi dan kabupaten. Pemerintah begitu kan tidak ideal," sambungnya.
(Bandung News)
"Sinkronisasi seluruh kementerian sudah selesai. Minggu ini saya ajukan ampres-nya kepada presiden," kata Mendagri Gamawan Fauzi di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Selasa (6/12/2011).
Dia mengungkapkan, dalam draf RUU Desa tidak ditetapkan prosentase alokasi anggaran untuk desa. Sesuai dengan prinsip otonomi daerah, penganggarannya diatur oleh kabupaten/kotamadya dengan menggunakan anggaran daerah.
"Desa bagian dari kabupaten. Karena dananya dari kabupaten, maka kabupaten yang mengatur alokasi dana ke desa masing-masing," jelas Gamawan.
Mantan Gubernur Sumbar ini yakin cara demikian tidak membebani anggaran kabupaten. Sebab pada kenyataannya pendapatan kabupaten setiap tahun meningkat sehingga bisa memastikan ketersediaan alokasi dana untuk desa.
"Kita harus patuh dengan sistem otonomi daerah. Tidak bisa dari pusat langsung ke desa, terlewati propinsi dan kabupaten. Pemerintah begitu kan tidak ideal," sambungnya.
(Bandung News)
Pertanyakan Status Motor Inventaris Pemerintahan Desa Yang Lama
Sumedang. Sejumlah kepala desa (Kades) yang tergabung dalam DPC Asosiasi
Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kab. Sumedang, kini
mempertanyakan soal status kepemilikan sepeda motor inventaris lama
jenis Honda Win yang dijadikan kendaraan operasional mereka.
Pertanyaan tersebut muncul, menyusul adanya penggantian motor inventaris baru bantuan dari Pemprov Jawa Barat yang telah diterima beberapa hari lalu.
Wakil Ketua DPC Apdesi Kab. Sumedang, Ropendi, kepada “KP”, Rabu (30/11), mengakui, saat ini sebagian Kades memang telah menerima kembali motor inventaris baru bantuan dari Gubernur. Dengan demikian, secara otomatis semua motor inventaris lama kemungkinan besar tidak akan dipergunakan lagi untuk kendaraan operasional Kades, karena selain banyak yang kondisinya sudah rusak, sekitar 270 motor inventaris kades/lurah di Sumedang itu pun saat ini kondisinya sudah tidak layak lagi untuk digunakan kendaraan operasional.
Karena alasan tersebut, kata Ropendi, pihak Apdesi atas nama para Kades di Sumedang, tentu ingin mempertanyakan status kepemilikan motor inventaris lama untuk ke depannya, apakah boleh didum alias dilelang untuk dibeli oleh para Kades yang masih menjabat atau bagaimana.
“Kalau boleh, kami meminta kepada pihak pemerintah, agar semua motor inventaris lama para Kades itu ke depannya supaya bisa dialihkan status kepemilikannya menjadi milik pribadi para Kades dengan cara diperbolehkan untuk dibeli oleh kami sebagai tanda kenang-kenangan semasa kami menjabat sebagai Kades,” kata Ropendi, Kepala Desa Sukamaju yang juga Ketua DPK Apdesi Kec. Rancakalong tersebut.
Permintaan seperti itu dibenarkan juga oleh Ketua DPK Apdesi Kec. Cisitu, Darmo. Malah menurut Darmo, sejauh ini para Kades memang tidak pernah mendapatkan gaji atau pun tunjangan pensiun sebagai tanda jasa mereka selama mengabdi pada masyarakat dan pemerintah. Sehingga, saat Kades itu berhenti, maka secara otomatis tidak akan ada tanda jasa apapun yang bisa dijadikannya kenang-kenangan semasa mereka menjabat sebagai orang nomor satu di desanya.
Karenanya, lanjut Darmo, sangat wajar jika para Kades meminta kepada pihak terkait agar motor inventaris lama tersebut bisa diperbolehkan untuk dibeli oleh para kadesnya masing-masing.
“Walaupun kondisi motornya sudah rusak dan tidak layak lagi, tapi bagi kami motor ini tentu sangat berarti, paling tidak, motor ini bisa menjadi kebanggaan saat kami berhenti jadi Kades kelak,” harapnya. K-25***
(Kabar Priangan)
Pertanyaan tersebut muncul, menyusul adanya penggantian motor inventaris baru bantuan dari Pemprov Jawa Barat yang telah diterima beberapa hari lalu.
Wakil Ketua DPC Apdesi Kab. Sumedang, Ropendi, kepada “KP”, Rabu (30/11), mengakui, saat ini sebagian Kades memang telah menerima kembali motor inventaris baru bantuan dari Gubernur. Dengan demikian, secara otomatis semua motor inventaris lama kemungkinan besar tidak akan dipergunakan lagi untuk kendaraan operasional Kades, karena selain banyak yang kondisinya sudah rusak, sekitar 270 motor inventaris kades/lurah di Sumedang itu pun saat ini kondisinya sudah tidak layak lagi untuk digunakan kendaraan operasional.
Karena alasan tersebut, kata Ropendi, pihak Apdesi atas nama para Kades di Sumedang, tentu ingin mempertanyakan status kepemilikan motor inventaris lama untuk ke depannya, apakah boleh didum alias dilelang untuk dibeli oleh para Kades yang masih menjabat atau bagaimana.
“Kalau boleh, kami meminta kepada pihak pemerintah, agar semua motor inventaris lama para Kades itu ke depannya supaya bisa dialihkan status kepemilikannya menjadi milik pribadi para Kades dengan cara diperbolehkan untuk dibeli oleh kami sebagai tanda kenang-kenangan semasa kami menjabat sebagai Kades,” kata Ropendi, Kepala Desa Sukamaju yang juga Ketua DPK Apdesi Kec. Rancakalong tersebut.
Permintaan seperti itu dibenarkan juga oleh Ketua DPK Apdesi Kec. Cisitu, Darmo. Malah menurut Darmo, sejauh ini para Kades memang tidak pernah mendapatkan gaji atau pun tunjangan pensiun sebagai tanda jasa mereka selama mengabdi pada masyarakat dan pemerintah. Sehingga, saat Kades itu berhenti, maka secara otomatis tidak akan ada tanda jasa apapun yang bisa dijadikannya kenang-kenangan semasa mereka menjabat sebagai orang nomor satu di desanya.
Karenanya, lanjut Darmo, sangat wajar jika para Kades meminta kepada pihak terkait agar motor inventaris lama tersebut bisa diperbolehkan untuk dibeli oleh para kadesnya masing-masing.
“Walaupun kondisi motornya sudah rusak dan tidak layak lagi, tapi bagi kami motor ini tentu sangat berarti, paling tidak, motor ini bisa menjadi kebanggaan saat kami berhenti jadi Kades kelak,” harapnya. K-25***
(Kabar Priangan)
Langganan:
Postingan (Atom)

